Dulu,
dulu sekali sampai lupa sejak kapan. Saya selalu menghabiskan waktu dirumah
eyang. Entah itu untuk beberapa bulan, atau beberapa hari diwaktu senggang.
Waktu itu saya masih sangat kecil, kebanyakan bahkan belum masuk ke Sekolah
Dasar. Saat terbangun dipagi buta karena suara denting lonceng gereja, yang
jumlahnya selalu sesuai dengan keadaan jam saat itu. Hebat bukan, dengan mata
masih terpejam saja bisa selalu tau jam berapa saat itu. Lalu dihalaman akan
selalu tersedia sekotak kapur untuk menggambar engkle. Setiap paginya sibuk
mencoret – coret pavingan parkiran mobil hingga penuh dengan warna kapur, lalu
kebanyakan sih berakhir kena marah karena lupa cuci tangan dan kaki. Didepan
rumah selalu ada got yang setiap 6 detik sekali keluar yuyu, kata eyang sih “Itu
yuyu-nya kepingin kenalan”, tapi menurutku yuyu-ya mukanya menyebalkan.
Kadang
– kadang saat hari mulai siang diajak naik mobil ke pasar, yang pasti senangnya
bakal bukan main, bisa buka kaca jendela terus nongolin muka biar kena angin semiriwing.
Sampai di pasar, pasarnya bau sekali, kalau udah masuk kesana pasti bosan, mual,
cuma bisa mendengarkan orang tawar – menawar barang. Tapi, setiap pulangnya
selalu beli es-krim, atau kalau enggak beli sandal baru yang bisa dibilang
selalu dirusakin seminggu sekali. Saat sore hari, sambil menunggu masakan jadi,
eyang selalu punya sejuta mainan tradisional yang bikin gak bosan, membuat
origami, membuat tikus-tikusan dari serbet, membuat bentuk – bentuk dari karton
warna – warni, aku bahkan punya bebek kesukaan yang kalau ditarik bisa jalan
goyang – goyang, kesayangan. Selain itu kalau sore disebrang jalan, ada tenda
penjual makanan, yang paling enak sih roti bakar isi selainya stroberinya.
Terus kalau mau pulang selalu ngerengek minta beli Fanta, habis ditutup
botolnya ada semacam lelucon, terus dikumpulin deh.
Kalau
udah maghrib, paling gak boleh nih keluar pager, apalagi selalu ada orang gila
yang mondar – mandir bawa golok *nyata nih* kadang – kadang bahkan pernah
sampai tek – tek di pager. Aku sih cuma bisa bergidik ngeri dari jendela. Dulu
paling anti tidur malem, dan paling anti bangun siang, beda ya sama sekarang
haha. Dulu jam 8 udah tidur, tapi jam dua udah bangun, ya karena apa lagi kalo
engga karena denting jam gereja yg selalu aja ngagetin. Mau tidur adalah waktu
paling favorit diantara semua waktu yang anda, karena selalu didongengin. Entahlah
eyang bisa hafal semua cerita tradisional, dari Malin Kundang, Sangkuriang,
Jaka Tarub, Rama – Shinta, dan yang paling terfavorit apalagi kalo engga
Mahabarata (Pandawa Lima). Mungkin gak ada remaja jaman sekarang yang bisa
menceritakan cerita lengkap Mahabarata selengkap aku. Mungkin sudah saking
hafalnya karena setiap udah diceritain bilangnya “Loh gamau, mau cerita yang
pandawa aja, gimana lanjutannya arjuna yang kemarin..”, sampai – sampai aku
punya novel dan versi komiknya. Menurutku cerita Mahabarata, walau berasal dari
India, bukan Indonesia, ini cerita epik banget. Penuh unsur budaya, nilai –
nilai moral yang harusnya dipunyai anak zaman sekarang.
Entahlah, semacam terjebak nostalgia
dengan masa kecil saya. Kesibukan saya membuat saya lupa bahwa dulu saya hanya
anak kecil yang suka bermain. Dan mungkin aku seringkali lupa berterima kasih
kepada eyang, yang dulu selalu menyempatkan waktunya untuk saya. Menurutku
kecintaannya terhadap anak kecil, dan pendidikan membuat saya menjadikannya
sebagai seorang role-model yang sempurna, dan dia juga yang membuat saya ingin
mendedikasikan diri untuk menjadi seorang Ibu yang nantinya bisa mencerdaskan
anak – anaknya.


